BINGKISAN, ADZAN DAN UMMUL QUR’AN

Setelah memberikan permen kepada Urwah (anak dari seorang teman) lepas maghrib Sabtu 02-04-2016, tiba-tiba saya teringat dan rindu pada sosok sang guru. Guru yang mengajarkan kami bagaimana memberi hadiah atau sedekah. Beliau “menggurui” orang lain untuk memberi hadiah dengan cara yang paling baik, dengan mempraktekkanya bukan sekedar teori.

Saya menyaksikan langsung, setiap datang untuk menyampaikan taujihat, beliau selalu membawa kantung plastik yang berisi berbagai bingkisan (hadiah) yang akan diberikan kepada peserta daurah. Jika dalam sehari beliau punya jadwal 3 (tiga) kali untuk memberikan materi daurah, maka kantung plastik berisi hadiah selalu membersamainya di tiga waktu tersebut.

Beliau menyediakan banyak stok hadiah, meskipun hadiah tersebut bernilai kecil, tetapi sangat berkesan. Tidak heran jika banyak anak-anak yang antusias mengikuti daurah (tidak rewel) dengan posisi duduk dekat dengan beliau dan pandangan fokus sembari berharap tatapan dan senyum manis syaikh mengarah ke mereka serta hadiah tentunya. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun keciprat hadiah, termasuk saya smile emoticon. Dari sini saya belajar bagaimana cara memikat hati orang lain, terutama dalam dunia dakwah, salah satunya dengan hadiah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
تهادوا تحابوا
Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian saling mencintai (HR. Bukhari).

Alhamdulillah, dari beliau saya belajar, ketika bepergian (meskipun tidak setiap hari) saya selalu berusaha membawa permen untuk diberikan kepada orang yang saya temui di tempat persinggahan, terutama anak kecil.

Ketika kita mampu memikat hati orang lain, apalagi dalam hal kebaikan, akan memberikan efek yang luar biasa dalam kehidupan kita. Syaikh Muhammad al ‘Arifi Hafidzahullahu Ta’ala dalam bukunya Nikmatilah Hidup Anda (terjemahan) mengatakan, “Kemampuan kita untuk memikat hati orang lain dan mendapatkan cinta mereka yang tulus akan memberi kita kenikmatan hidup yang besar”. Mungkin ini yang telah dirasakan oleh tokoh yang saya ceritakan dalam tulisan ini, kenikmatan hidup yang besar.

Adzan, ini kesan kedua yang
saya dapatkan dari syaikh hafidzahullahu. Suatu ketika disela-sela mengisi daurah, tiba waktu shalat, beliau berjalan menuju tempat adzan seraya meraih mic dan mengumandangkan adzan dengan suaranya yang merdu. Setelah itu beliau menyampaikan keutamaan seorang muadzin dihadapan Allah. Belakangan saya mendapatkan dalil yang beliau sebutkan, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang terjemahannya: “Apabila engkau sedang mengurus kambing atau di tengah padang, maka adzanlah untuk (menyerukan) shalat, dan keraskan suaramu dengan seruan itu. Karena sesungguhnya jin, manusia, dan apapun yg mendengar selama suara orang itu adzan, maka pada hari kiamat kelak akan menjadi saksi baginya” (HR. Bukhari).

Setiap makhluk, batu, pasir, pepohonan, akan menjadi saksi kata syaikh hafidhahullahu.

Pembaca yang budiman, mari berlomba meraih mic di masjid-masjid, menyeru manusia menuju kemenangan. Tidak perlu suara yang merdu, ketepatan menyebut lafadz adzan itu yang penting.

Hal ketiga yang sangat berkesan bagi saya, ketika syaikh hafidzahullahu berkesempatan mengajari kami membaca Ummul Qur’an (surah Al Fatihah) dengan benar. Setelah shalat subuh, kami duduk melingkar, satu per satu memperdengarkan bacaannya kepada syaikh. Saya lupa jumlah kami saat itu berapa. Dengan penuh kesabaran, syaikh mengoreksi bacaan yang salah. Sungguh, bagi saya ini adalah kesempatan yang langka, diajari langsung oleh seorang ulama yang kapasitas ilmunya sangat mumpuni. Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla masih menganugerahkan kesempatan langka seperti ini lagi.

Itulah tiga hal, BINGKISAN, ADZAN DAN UMMUL QUR’AN, yang sangat berkesan, langsung kami dapatkan dari Syaikh Dr. ‘Arif Syuj’an Al ‘Ushoimiy Hafidzahullahu Ta’ala, pengajar di Ummul Quraa University, Makkah al Mukarramah, saat pertama kali beliau mengisi daurah di Bumi Serambi Madinah, Gorontalo.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla membalas kebaikan beliau dengan yang lebih baik dan berharap bisa bertemu beliau lagi dalam keadaan yang lebih baik.

Terakhir, bagi yang mengenal atau sering berinteraksi dengan beliau, titip salam “Uhibbukafillah” kepadanya.

____________________________
Bumi Serambi Madinah, 18-04-2016

Ja’far LK

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on April 19, 2016, in Catatanku, profil, tarbiyah and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: