Syaikh ‘Ustaimin: Jangan Bersedih Wahai Penyeru Kebaikan…

Janganlah engkau bersedih wahai para da’i seandainya dakwahmu tidak diterima masyarakat. Jika engkau telah menyampaikan  apa yang wajib engkau sampaikan, berarti bebanmu telah terlepas, dan serahkanlah hisabnya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman keapda Nabi-Nya,

لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ (٢٢) إِلَّا مَن تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ (٢٣) فَيُعَذِّبُهُ ٱللَّهُ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَكۡبَرَ (٢٤) إِنَّ إِلَيۡنَآ إِيَابَہُمۡ (٢٥) ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا حِسَابَہُم (٢٦)

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir. Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (Q.S Al-Ghaasiyyah: 22-26)

Janganlah engkau sedih wahai penyeru kebaikan seandainya ucapanmu ditolak, atau masyarakat sama sekali tidak menerimamu, karena engkau telah menggugurkan kewajibanmu.

Namun ketahuilah, jika memang dalam dakwahmu itu benar-benar hanya mengaharap wajah Allah Ta’ala, pasti akan ada hasilnya (membekas), meskipun mereka menolakmu secara terang-terangan didepanmu, meski ada bekas (dihati mereka). Dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi para da’i di jalan Allah. Dikisahkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam dikumpulkan bersama para penyihir dari penjuru Mesir (atas perintah Fir’aun), mereka semua menghadap Musa seorang diri, lalu mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat yang seluruhnya berubah menjadi ular sehingga memenuhi arena pertunjukkan, dan Nabi Musa pun ketakutan. Allah Ta’ala berfirman:

فَأَوۡجَسَ فِى نَفۡسِهِۦ خِيفَةً۬ مُّوسَىٰ (٦٧)

Maka Musa merasa takut dalam hatinya. (Q.S Thaaha: 67)

Tatkala mereka semua berkumpul, Nabi Musa berkata kepada mereka:

قَالَ لَهُم مُّوسَىٰ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ڪَذِبً۬ا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٍ۬‌ۖ وَقَدۡ خَابَ مَنِ ٱفۡتَرَىٰ (٦١)

“Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, Maka dia membinasakan kamu dengan siksa”. dan Sesungguhnya Telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (Q.S Thaaha: 61) Dengan kata-kata yang singkat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَتَنَـٰزَعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡ وَأَسَرُّواْ ٱلنَّجۡوَىٰ (٦٢)

Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka diantara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (Q.S Thaaha: 62)

Artinya, seketika itu mereka langsung berbantah-bantahan (karena perkataannya). Huruf ف dalam ayat ini menunjukkan sebab, susunan dan akibat.

Renungkanlah olehmu dari kisah ini bagaimana kata-kata yang singkat dari Nabi Musa ‘alahissalam bisa meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan dari benak mereka (para tukang sihir).

Walhasil, nasihat anda haruslah mengandung sesuatu yang membekas (bermakna), walaupun dirasakannya seketika itu juga atau setelah waktu berlalu. Wallahu a’lam

 

Sumber: Syarah Hadist Arba’in Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on September 11, 2015, in Artikel Islamy and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: