Sekali Lagi, Jangan Tergesa-gesa!

Betapa seringnya, kita, para penempuh jalan dakwah yang mulia ini menjadi resah sendiri. Di banyak tempat, kira sering menyaksikan fenomena ketidaksabaran dalam menjalani dan melewati aral, onak dan duri dalam kisah kemulian dakwah ini. Suatu saat, kita mendengar dan menyaksikan para pemuda Islam melakukan penghancuran dan pengrusakan atas nama jihad. Di kali yang lain, kita melihat ketidaksabaran itu mewujud dalam berbagai vonis-vonis kesesatan dan pengkafiran yang begitu mudah terucapkan atau tertuliskan. Dan di waktu yang lain, ketergesaan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan untuk memasuki dunia politik praktis; seolah itu menjadi sebuah jaminan (baca: satu-satunya jalan) untuk mewujudkan Islam dengan seluruh perangkat komprehensifnya.
Marilah kita berbincang sedikit tentang mereka yang sibuk dengan politik praktis. Di sebuah negeri antah barantah, sejumlah pemuda Islam yang sebelumnya tersibukkan dengan tarbiyah tiba-tiba mewujud menjadi sebuah partai politik. Entah apa yang menjadi pertimbangan mereka. Mungkin saja dakwah. Dan benar sekali bahwa Islam memiliki satu bagian penting yang dikenal dengan istilah Siyasah Sya’riyyah atau politik yang berlandaskan syariat. Sekali lagi lagi: berlandaskan syariat!
Tetapi mengatasnamakan “dakwah” itu kemudian semakin tidak jelas saja dari waktu ke waktu. Entah dakwah apa yang mereka maksud. Karena atas nama kemashlahatan dakwah, para ikhwannya sudah mulai boleh mencukur jenggot dan isbal. Para akhwatnya dari waktu ke waktu senakin enjoy mengenakan jilbab tabarrujnya, denga alasan agar tidak terkesan tertutup dan membuat orang lari. Berbagai event dan acara besar yang dilaksanakan sudah tidak lagi mempersoalkan ikhtilat atau percampurbauran antara tamu pria dan wanita. Atas nama dakwah, terkadang garis toleransi menjadi demikian kaburnya. Kelak, bisa saja sang partai akan merobek batas itu jika harus memenuhi target suara tertentu! Yah, jika yang selalu menjadi orientasi adalah mempertahankan eksistensi partai, maka sangat mungkin terjadi “penghalalan” segala cara (seperti kasus caleg non muslim, meski kemudian telah dilkarifikasi oleh si partai antah berantah). Ini mungkin salah satu contoh saja dari ketergesa-gesaan itu. Dan saat ini partai antah-berantah tersebut telah menjadi partai “sekuler”.

Maka sekadar mengingatkan, jalan dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang. Para penempuhnya harus memiliki saldo kesabaran yang melimpah untuk melewati jejak-jejaknya. Yah, harus ada ‘azzam yang teguh layaknya para ulul ‘azmi dari kalangan rasul. Kelak di ujung jalan usia kita menempuh jalan dakwah itu, mungkin kita berpulang pda Alla dengan 100 pengikut, 50, 20, 5, 1, atau tanpa pengikut sama sekali. Tidak masalah. Sebab di jalan ini, yang terpenting adalah sudahkah kita menyampaikan. Ada yang ikut atau tidak; semua itu di Tangan Allah Ta’ala.

Sebaliknya, seorang penempuh jalan dakwah harus terus menjaga keikhlasan hatinya, terutaama dari penyakit ghurur. Jangan tertipu dengan ramainya khalayak pengikut yang terpesona dengan dakwah Anda. Jika kelak Allah menakdirkan ada puluhan ribu, bahkan jutaan kaum Muslimin hadir dalam tabligh akbar Anda, maka itu adalah saat yang tepat untuk beristighfar dan berlindung dari penyakit ghurur. Yah, karena itu akan mengekang hasrat ketergesaan Anda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan.

Nampaknya, kita harus belajar pada ikhwah kita di Jama’ah Anshar al-Sunnah al-Muhammadiyyah di Sudan. Simpati masyarakat Sudan pada mereka sudah sampai pada derajat: jika seorang pemuka jama’ah ini mencalonkan diri jadi presiden, maka ia pasti akan terpilih. Namun jama’ah ini sepakat untuk tetap bersabar. “saatnya belum tiba untuk itu, demikian ujar mereka. Subhanallahu, bukankah ini sebuah kesabaran yang patut diteladani?

Maka lagi-lagi, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan skala prioritas dakwah kita. Teringatlah kita pada ungkapan hikmah yang mengatakan: “Tegakkan Negara Islam dalam dirimu, niscaya ia akan tertegak di tanah airmu”. Maka seluruh upaya dakwah saat ini seharusnya berpusar pada penegakan “Negara Islam” dalam pribadi-pribadi kaum muslimin. Melahirkan pribadi yang memiliki tauhid yang murni, tanpa noda syirik dan bid’ah, sesuai jejak al-salaf al-shaleh. Melahirkan jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Dan perjalanan untuk itu, sungguh masih terlalu panjang untuk sebuah negeri yang jumlah penduduknya lebih dari 200 jjta jiwa ini.

Maka, sekali lagi, jangan tergesa-gesa… (Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc, MA)

Sumber: Majalah al-Bashirah

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on November 1, 2011, in Artikel Islamy, Artikel Motivasi, Catatanku. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: