Menjemput Takdir!

Suatu hari lelaki itu didatangi oleh tamu asing. Sesaat setelah memperkenalkan diri, sang tamu menyampaikan maksud kedatangannya. Rupanya sang tamu datang untuk menawarkan  sesuatu yang tidak lazim. Jauh-jauh ia datang dari Bulgaria untuk menghadiahkan salah satu bola matanya untuk lelaki itu. Untuk tujuan itu ia tidak main-main, ia telah berkonsultasi dan telah mengantongi persetujuan dari seorang dokter spesialis.

Tawaran surprise untuk lelaki itu bukan kali itu saja, tapi beberapa kali. namun demi mendengar semua tawaran itu, lelaki itu menolak dengan halus, sehalus perangainya. Ia hanya mengatakan, “Semoga Allah memberkati kedua matamu dan memberi Anda manfaat. Kami telah redha dengan apa yang ditakdirkan Allah pada kami”. Ia menerima  takdirnya sebagai penyandang tunanetra.

Laki-laki itu memang buta, tapi itu tidak menghalanginya menjadi cemerlang. Sebelum baligh ia sudah menghafal al-Qur’an. Bahkan ada yang mengatakan ia menghapal dan menguasai dengan baik Shahih al-Bukhari. Ini terlihat dari catatan komentarnya atas buku Fathul Bary penjelasan dari kitab Shahih Bukhari serta meluruskan berbagai kekeliruan aqidah yang mewarnai karya monumental Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut. Karena kecemerlangannya, lelaki ini menduduki posisi prestisius sebagai Mufti Umum dan ketua Hay’ah Kibar Ulama di Negara di mana ia berada

Kondisi lelaki ini juga tidak menghalanginya menuliskan karyanya dari berbagai macam topik; aqidah, hukum, tafsir, biografi yang sebagian besarnya merupakan respon atas kondisi kontemporer umat Islam. Semua itu terakumulasi dalam buku bernama Majmu’ Fatawa, karya master peace-nya yang semakin meneguhkan posisinya  sebagai ulama dunia.

Dari sini kita mengerti bagaimana kekurangan tidak menjadi penghalang untuk meraih kecemerlangan. Begitulah   tekad bekerja. Tekad memformulasi sedemikian rupa berbagai macam kekurangan, ketiadaan sarana, keterbatasan fasilitas  menjadi ‘tidak lebih besar’ dari pada cita-cita dan harapan.  Bahkan dalam konsdisi tertentu berbagai macam kelemahan dan  keterbatasan itu akan bertekuk lutut di depan tekad yang membaja.

Lelaki itu, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz adalah bintang cemerlang di langit zamannya. Dengan keterbatasannya ia menyuplai cahaya untuk umatnya. Ia menerima takdirnya sebagai penyandang tuna netra untuk selanjutnya menjemput takdirnya yang lain sebagai ulama mumpuni abad ini. (http://tanaasuh.com/menjemput-takdir/)

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on June 12, 2011, in adab, akhlak, Artikel Islamy. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: