Ehsan dan 6 + 8

Aneh! Mungkin kata ini yang terbesit dibenak pembaca sekalian ketika melihat dan membaca judul ini. Ya, judul ini memang aneh, sengaja saya memberikan judul seperti ini agar pembaca sekalian penasaran dan mau membaca tulisan ini, he…he…he (bercanda).

Tulisan ini merupakan inspirasi yang saya dapatkan dari film yang terkenal dengan perkataan betul…betul…betul-nya, Upin & Ipin.

 

Belajar Mandiri Sejak Dini

Sehabis melaksanakan sholat maghrib, Rabu 10 Dzulhijjah 1431 H bertepatan dengan 17 November 2010 M, saya bersama seorang teman memenuhi undangan dari salah seorang siswa kami, katanya ada acara bakar-bakar sate (daging Qurban mode on) sekalian silaturrahim sama keluarganya. Setiba di rumah siswa, kami menemukan siswa tersebut dan Ibunya sedang menata rapi tusukan-tusakan daging (sate) di atas bara api sambil sesekali dikipas, tak sedikit asap yang membawa aroma sate membumbung tinggi dilangit-langit dan lorong-lorong rumah, waa..h saya jadi ngileerrr.

Betapa kagumnya saya pada anak tersebut. Diumurnya yang masih belia, dia senang membantu orang tuanya meskipun mereka memiliki pembantu rumah tangga. Begitu juga dengan ibunya yang telah mengajarkan kepada anaknya bagaimana arti hidup mandiri, padahal ia adalah seorang pegawai bank (boleh dibilang pekerjaan yan cukup sibuk dan menyita waktu). Karena orang tuanya yakin bahwa suatu saat nanti anaknya akan berpisah dengan mereka dalam rangka mengejar mimpi-mimpi indahnya (baca : cita-cita). Jika tidak diberikan pengalaman sejak dini, kelak dalam perjalanan menggapai cita-cita dia akan kesulitan. Bukankah kita sering mendengar ungkapan, experience is the best teacher? Dan kita tidak akan mendapatkan sebuah experience kecuali dengan the real action.

berakit-rakit ke hulu

berenang-renang ke tepian

bersakit-sakit dahulu

bersenang-senang kemudian

 

Ehsan dan 6 + 8

Waktu Isya’ pun tiba dan alhamdulillah telah mencicipi sate buatan siswaku. Kami, tanpa siswa (dia nggak ikut karena kebanyakan makan sate :)) menuju masjid terdekat untuk menunaikan sholat Isya’ berjamaah. Usai sholat isya’ kami kembali ke rumah siswa tersebut untuk rehat sejenak sambil nonton TV. Yupz! Kebetulan film favoritku, Upin & Ipin lagi tayang di MNC TV. Saya kembali mendapat inspirasi dari film ini.

Saat itu bersama Cik Gu mereka (murid-murid) sedang belajar matematika, beberapa murid telah menyelesaikan dengan benar soal di papan tulis yang diberikan oleh Cik Gu. Kini tiba giliran Ehsan untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh Cik Gu.

6 + 8, itulah soal yang diberikan Cik Gu kepada Ehsan. Ehsan pun maju untuk menyelesaikan soal tersebut. Namun Ehsan salah menjawab soal yang diberikan Cik Gu. Dia (Ehsan) menjawab 15 yang seharusnya jawabannya adalah 14. Dengan sedikit menggerutu Ehsan kembali ke tempat duduknya.

Jangan Malu dan Jangan Takut Salah!

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah Ehsan di atas?

Dalam kisah ini, kita tidak boleh mengatakan Ehsan adalah murid yang bodoh karena salah dalam menjawab soal. Jika Ehsan menjawab benar soal dari Cik Gu tersebut maka Upin & Ipin dan kawan-kawannya tidak akan pernah memaknai arti sebuah kesalahan. Terkadang kita merasa takut dan malu ketika diperintah oleh guru atau dosen untuk maju menyelesaikan soal di papan tulis. Berbagai ungkapan yang sering keluar dari lisan kita (dalam dialek Gorontalo), tako kita…, ta salah stow…, malu kita, ngana jo yang maju napa depe jawaban….dan ungkapan-ungkapan lain yang tidak pantas diungkapkan oleh seorang terpelajar. Tidak PeDe, padahal sesungguhnya kita telah menemukan jawabannya, kalaupun salah, kita tidak akan dimarahi atau dipukul oleh guru. Justru sebaliknya, guru akan membenarkan jawaban kita yang salah. Lihat, betapa beraninya dan tanpa rasa malu Ehsan dalam menyelesaikan soal meskipun salah dan mendapat cemoohan dari teman-temannya. Dua “penyakit” inilah, takut dan malu (yang tidak wajar) yang selalu menyerang para siswa. Jika sampai dibiarkan, “penyakit” ini akan menjadi kronis dan menjadi parasit dalam menggapai mimpi-mimpi indah yang telah lama diimpikan. Maukah mimpi indah yang telah lama Anda impikan kandas ditengah jalan hanya karena rasa takut dan malu? Tentu tidak. Olehnya, buanglah sejauh mungkin rasa takut dan malu Anda dan gapailah cita sukses Anda!

 

~Janganlah pernah menyerah ketika Anda masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir sampai Anda berhenti Mencoba~ ‘Brian Dyson’

 

di Pulau Irian

ada Cendrawasih

cukup sekian

dan terima kasih

 

Pasti Bermanfaat!

 

Jafar @ Kamis, 00.30 WITA | 11 Dzulhijjah 1431 H/ 18 November 2010 M

 

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on November 18, 2010, in Artikel Motivasi, Catatanku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: