Kepada Orang Tua Yang Enggan Menikahkan Anaknya

Dewasa ini tidak jarang kita temukan orang tua yang enggan menikahkan anaknya dengan seorang lelaki pilihan sang anak tersebut. Atau dalam hal ini orang tua punya lelaki pilihan untuk sang anak. Biasanya lelaki tersebut adalah relasi bisnis orang tua, dengan harapan jika dia menikahkan anaknya dengan lelaki tersebut maka bisnisnya akan maju. Ada juga orang tua yang enggan menikahkan anaknya kecuali dengan pengusaha atau orang yang telah memiliki pekerjaan tetap. Mereka (para orang tua) enggan menikahkan anaknya dengan lelaki kere, tidak punya pekerjaan tetap, apalagi yang datang adalah hanya seorang thullabul ‘ilmi (penuntut ‘ilmu), seorang ustad dengan berbagai ‘atribut’ sunnah. Dengan alasan jika telah menikah nanti anaknya akan ditelantarkan, anaknya akan hidup melarat dan berbagai macam pikiran aneh lainnya. Itulah beberapa alasan orang tua, dan alasan ini tentu sangat bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam :

Kalau ada lelaki yang kalian sukai agama dan akhlaknya datang melamar putri kalian, nikahkanlah lelaki itu dengan putri kalian tersebut. Kalau tidak akan terjadi bencana dan kerusakan besar di muka bumi” (HR At Tirmidzi)

Dalam hadist lain yang juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abu Hatim Al Muzani, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Kalau ada lelaki yang kalian sukai agama dan akhlaknya datang melamar putri kalian, nikahkanlah lelaki itu dengan putri kalian tersebut. Kalau tidak akan terjadi bencana dan kerusakan besar di muka bumi. Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah! Apakah bencana itu tetap terjadi meskipun lelaki shalih tersebut masih hidup? Beliau menjawab dengan mengulangi sabdanya : Kalau ada lelaki yang kalian sukai agama dan akhlaknya datang melamar putri kalian, nikahkanlah lelaki itu dengan putri kalian tersebut. Kalau tidak akan terjadi bencana dan kerusakan besar di muka bumi…3X”

Dari hadist di atas terlihat bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali, ini menunjukan bahwa perkara ini adalah perkara yang sangat penting. Dan tidaklah Rasulullah berucap kecuali ucapan tersebut adalah wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun kekhawatiran orang tua bahwa anaknya akan hidup miskin dan melarat jika menikah dengan lelaki yang belum punya pekerjaan tetap atau lelaki tersebut hanyalah seorang da’i, maka hal ini telah dijawab oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S An Nuur : 32)

Syaik Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baaz rahimahullahu ta’ala menjelaskan, kata ayyama (orang-orang yang sendirian) dalam ayat di atas adalah jamak dari ayyim. Biasanya digunakan untuk seorang wanita yang tidak bersuami atau lelaki yang tidak beristri. Bisa dikatakan seorang wanita itu ayyim (masih gadis) dan seorang lelaki itu ayyim (masih bujangan).

Ibnu Abbas rahimahullahu ta’ala menjelaskan: ‘Allah memberikan motivasi kepada mereka untuk menikah, memerintahkan orang-orang merdeka bahkan hamba sahaya untuk menikah, lalu menjanjikan kecukupan bagi mereka.

Masihkan para orang tua enggan menikahkan anaknya hanya karena alasan yang tidak dibenarkan syariat? Sungguh berbagai alasan ini muncul karena kurangnya al bashirah (ilmu syar’i) yang dimiliki oleh orang tua tersebut. Oleh karena itu, menjadi kewajiban setiap anak untuk senantiasa mendakwahi kedua orang tuanya dalam berbagai hal (termasuk masalah pernikahan ini) dengan cara-cara yang benar sebagaimana telah dicontohkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pasti Bermanfaat!

Rujukan :

  1. Al Qur’anul Karim
  2. Bid’ah-bid’ah Dalam Pernikahan Yang Dianggap Biasa, oleh Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baaz & Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on July 13, 2010, in Artikel Islamy, Catatanku. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. saatnya persiapan nikah, masih da waktu

  2. betul…betul….betul

  3. sangat menyentuh karena pengalaman pribadi saya..
    9 tahun berhubungan tidak pernah direstui orang tuanya…
    lamaran ditolak, dosa berjalan terus.. salah siapa??

  4. seperti itulah jika orang tua tidak paham dengan syariat Allah, maka tugas kita adalah meberikan pencerahan kepada mereka

  5. apakah dosa jika anak tetap meminta dinikahkan dengan lelaki pilihannya namun orang tua tetap tidak merestui?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: