Selaksa Kenangan Penyejuk Jiwa (Bagian 1)

Berawal dari sehelai kertas merah muda. Ku pegang erat kertas tersebut sembari membubuhinya dengan identitas diri dan berbagai unek-unek lainnya. Sambil harap-harap cemas menunggu pengumuman hasil (ujian nasional), tetapi hatiku tetap optimis. Sama halnya dengan Aku, sahabat-sahabatku pun demikian, yang ada dibenak mereka saat itu adalah sebuah kata “LULUS”. Sampai-sampai kata itu terbawa dalam mimpi

Hari-hari pun berlalu, dalam masa-masa penantian. Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu plus mendebarkan (dag.. dig… dug…). Berbagai ekspresipun diperagakan, corat-coret pakaian, sujud syukur, tangisan (sampai membuat mata bengkak, wah kayaknya berlebihan ckkk..kk), teriakan yang membahana serta ucapan-ucapan lain sebagai ekspresi kesyukuran. Alhamdulillah LULUS! Satu tiketpun telah Aku raih untuk dapat melanjutkan perjalanan ke pulau kesuksesan berikutnya. Sebelumnya juga Aku telah menerima surat panggilan dari salah satu perguruan tinggi yang saat ini menjadi tempatku belajar dan berlatih.

Secercah Harapan

Sambil menenteng koper. Orang tua (ayah dan Ibu) serta seluruh keluarga pun mengantar Aku menuju pelabuhan. Mereka semua ingin melepas kepergianku, mereka semua ingin melihat wajahku. Mungkin saat itu mereka berkata dalam hati, ini adalah terakhir kalinya kami melihat wajahmu? Tetapi mereka tetap berharap kepergianmu bukan kepergian untuk selamanya tetapi kepergian untuk kembali.

Nak…! hari ini Engkau akan meningggalkan kami semua, kami merelakan kepergianmu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu, jangan lupa jaga dirimu Nak..!” Itulah secercah harapan yang keluar dari mulut Ibunda tercinta sembari meneteskan air mata.

Dengan air mata yang terus mengalir Aku membalas harapan Sang Bunda, “Do’a Ibu senantiasa Anakda butuhkan, jangan lupa sisipkan do’a untuk anakmu disetiap sujud Ibu…”

Aku melepaskan pelukan saudara-saudaraku satu persatu yang sempat mengantarku saat itu. Sambil meneteskan air mata Aku berjalan menuju tanggal kapal. Sangat berat rasanya untuk meninggalkan mereka terutama Ayah dan Ibuku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Aku pasrah menerima ini semua karena ini adalah suratan takdir dari Allah subhanahu wa ta’ala. Akhirnya Aku hanya bisa memberikan lambaian tangan kepada mereka dari atas kapal yang tengah berlayar meninggalkan kampung halamanku. Tekadku telah bulat bahwa kepergianku adalah untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahku yang telah lama kuidam-idamkan, untuk mewujudkan secercah harapan dari Sang Bunda dan keluargaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, sekali lagi Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Dan Aku senantiasa berharap semoga Allah subhanahu wa ta’ala melindungi dan meridhoiku dalam meniti jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahku.

BERSAMBUNG……..

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on July 3, 2010, in Catatanku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: