Dunia Ini Penuh Dengan Anak Seperti Aku

Aku mempunyai ibu yang hebat. Beliau menyayangiku dengan sepenuh hatinya. Beliau berkorban dan membantu aku dalam segala hal.

Ibuku membesarkan aku seperti menatang minyak yang penuh. Ibu menguruskan pengajianku sampaiĀ  aku berumahtangga. Beliau sangat sigap ketika diminta membantu melayani anak-anakku.

Hari ini, wanita yang hebat itu telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Dapatkah anda bayangkan perasaanku apabila suatu hari aku pergi ke rumah ibuku, aku telah terjumpa sajak ini terlipat sepi di dalam laci mejanya? Sajaknya berbunyi begini.

INILAH MASANYA
Jika kau ingin menyintai ibu
Cintailah ibu sekarang supaya ibu tahu
Keindahan dan kelembutan kasih
yang mengalir kudus daripada sanubarimu.

Cintailah ibu sekarang
Semasa ibu masih hidup
Usahlah tunggu sehingga ibu telah pergi
Kemudian barulah diukir di batu nisan
dengan kata-kata indah pada sekujur batu yang sepi.

Jika kau memiliki ingatan manis buat diri ibu
Tunjukkanlah pada ibu sekarang
Jika kau tunggu sehingga ibu mati
Sudah pasti ibu tidak sempat dengar
kerana kita dibatasi kematian.


Oleh karena itu, jika kau menyintai ibu, walaupun hanya setetes dari lautan hidupmu
Lafazkan dan buktikan sekarang sementara ibu masih hidup
Agar ibu dapat menikmati dan menyanjunginya.

Sekarang ibu sudah pergi dan aku menderita dengan rasa bersalah sebab aku tidak pernah menyatakan betapa besar nilai penghargaan dan pengorbanan ibuku terhadap diriku dan keluargaku selama ini. Malah aku tidak pernah melayani ibuku dengan sewajarnya.

Aku layani semua orang untuk semua urusan, tetapi aku tidak pernah meluangkan masa yang cukup untuk ibuku sendiri. Sebenarnya aku mampu menuangkan air ke dalam cawannya, kemudian memeluknya ketika bersarapan, tetapi aku terlalu mengutamakan urusan rekan-rekanku. Pernahkah rekan-rekanku melayanku seperti ibuku ? Aku tahu jawabannya.

Apabila aku menelefon ibu, aku sentiasa lakukan dengan cepat, ringkas dan tergesa-gesa. Aku benar-benar berasa malu apabila mengingatkan tindakan masa lampauku terhadap ibu. Aku masih ingat berapa banyak masa yang aku berikan padanya dan banyak masa aku biarkan dia begitu saja.

Anak-anakku sayang akan nenek mereka sejak mereka kecil lagi. Mereka mengunjunginya untuk mendapatkan nasihat dan ketenangan. Nenek memahami mereka.

Aku sadar dan mengerti sekarang bahwa aku terlalu kritis, sensitif, dan terlalu susah untuk menghargai nenek yang telah mencurahkan kasih tanpa syarat kepada cucunya.

Dunia ini dipenuhi oleh anak-anak sepertiku. Aku berharap mereka inshof dan mendapat manfaat dari surat ini. Aku sudah terlambat dan kini aku sedang dilanda derita dan penyesalan yang tiada penghujung dan noktahnya.

Sumber : http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=2676 dengan beberapa perubahan


About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on June 27, 2010, in Renungan. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. ADA JUGA ANAK SEPERTI AKU….

  2. terima kasih atas hentakan hati yang diberikan…semoga hati ini pun sadar dan tak kan mengulang cerita ini. semoga sku tidak menjadi aku yang menyesali akan sesuatu hal yang tak kan kembali. jazakallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: