Sahabatku Seorang Lesbian

Waktu adalah kehidupan. Ya, kehidupan yang terus bergulir sampai pada batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam menjalani kehidupan ini, manusia berbeda-beda dalam mengisi ruang-ruang kosong yang telah disediakan oleh Allah ta’ala sebagai sarana untuk mencapai kehidupan abadi yang penuh kebahagian. Ada yang mengisi ruang kosong tersebut dengan berbagai model kemaksiatan atau perbuatan dosa dengan berbagai variasinya. Namun, ada juga mereka yang memanfaatkan ruang kosong tersebut dengan ibadah yang ikhlas dan akhlak mulia untuk mendapatkan unlimited happines dan menginginkan happy ending full barokah.

Hendaknya kita (manusia) yang masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara segar, meneguk air dan mencicipi lezatnya makanan dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari perilaku alam ciptaan Allah dan orang-orang disekitar kita. Kita bisa melihat, ketika terjadi bencana alam, gempa bumi misalnya, jarang dari kita yang bertanya mengapa Allah menurunkan adzabnya (gempa bumi), yang ada hanyalah jeritan minta tolong kepada Allah (meskipun dengan cara yang tidak dibenarkan syari’at). Begitupula dengan bencana moral yang banyak menimpa pemuda Islam saat ini.

Berikut saya akan mengetengahkan sebuah kisah yang menimpa saudara kita. Semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini.

Pagi itu, 18 Safar 1431 H bertepatan dengan 03 Februari 2010 saat jarum jam tepat menunjukan pukul 08 : 26 WITA telepon genggamku berdering sebagai tanda ada pesan masuk.

assalamu’alaikum,….Saya ada teman, teman saya itu suka sama sesama jenis. Gimana cara menghadapi orang seperti ini? Mohon bantuannya!”

Pesan ini mengingatkan saya pada kisah kaum Nabi Luth, kaum sodom yang diadzab oleh Allah akibat perbuatan mereka (suka sesama jenis). Kemudian saya membalas pesan tersebut, Jelaskan sama dia bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa, sebagaimana kaum Nabi Luth yang dilaknat/dibinasakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena perbuatan mereka (suka sesama jenis)”

Beliau menjawab (lewat pesan singkat) : Sudah dilakukan, tapi tetap saja dia itu cara berpakaiannya kayak cowok, suka merokok, minum-minuman keras dan dia kost dengan cowok…Mau dibiarkan, saya merasa berdosa”

Pesan ke-2 ini membuat saya jadi bingung, mau jawab apa! Melihat masalah ini sangat serius dan telah ‘kronis’, sehingga saya mengajak (ingin) bertemu langsung dengan pengirim SMS ini.

Alhamdulillah, setelah sholat maghrib dengan izin Allah ta’ala, saya bisa bertemu dengan si pengirim SMS.

Setelah mengorek informasi sebagaimana ia ceritakan lewat SMS. Ternyata temannya tersebut adalah seorang mahasiswi tingkat IV disalah satu perguruan tinggi. Dan anehnya yang ia suka (cintai) adalah sahabatnya sendiri, naudzubillahi mindzalik. Perbuatan ini tak ubahya perbuatan kaum Nabi Luth. Lihatlah bagaimana perbuatan kaum Nabi Luth yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an :

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas” [Al-A’raf : 80-81]

Dari ayat di atas terlihat jelas bawah perbuatan fahisyah (homoseksual) yang dilakukan oleh kaum sodom merupakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia kecuali mereka (kaum sodom) pada saat itu.

Amr bin Dinar berkata menafsirkan ayat diatas : “Tidaklah sesama laki-laki saling meniduri melainkan termasuk kaum Nabi Luth”.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth” [HR. Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 (no. 7337)]

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari sifat seperti ini dan memberikan hidayah kepada saudara kita yang menjadi inspirasi tulisan ini. Amin

Ruang Sidang Jurusan Pend. Kimia Universitas Negeri Gorontalo, Selasa 20 April 2010 – 14.20 WITA

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on April 20, 2010, in Catatanku. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. biasanya susah klo so biasa…kecuali trus berdoa & mgharap rahmat Allah…

  2. kalau dirasa kesulitan dalam menghadapinya lebih baik jauhi dan doakan.itulah selemah2nya muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: