Habibie-habibie Baru (H2B) Gorontalo 2030

oleh : Akram La Kilo
(Dosen Kimia Universitas Negeri Gorontalo, Kandidat Doktor ITB)
Daratan Gorontalo dibatasi oleh laut pada bagian selatan dan utara, yang masing-masing berhadapan dengan teluk Tomini dan laut Sulawesi. Gorontalo juga mempunyai garis pantai sepanjang 590 km, dengan luas laut teritorial 10.500 km2 dan luas perairan Zona Ekonomi Eksklusif 40.000 km2 yang ada di perairan sebelah utara, sehingga total luas perairan laut 50.500 km2. Laut yang luas tersebut mempunyai potensi besar sebagai sumber makanan laut, khususnya ikan, yang diperkirakan jumlah ikan laut sebesar 1.226.090 ton/tahun.

Perkembangan perikanan tangkap selama 20 tahun, sejak tahun 1986-2005 di wilayah laut selatan Gorontalo menunjukkan bahwa penangkapan ikan pada tahun 1995, 2003, dan 2005 merupakan tahun yang paling efisien dibandingkan dengan tahun-tahun yang lain. Pada tahun 2009, hasil tangkapan ikan adalah 4.990 ton, masih sangat kurang karena setiap hari seharusnya perkapita mendapatkan 57 gram ikan. Penduduk Gorontalo saat ini 1.041.229 jiwa, jadi butuh 21.662,77 ton per tahun.

Disamping kebutuhan ikan yang belum memadai, cara masak ikan pun pada umumnya hanya memperhatikan nilai rasa, sehingga omega-3 yang ada pada ikan hilang. Ikan yang dikonsumsi oleh kebanyakan masyarakat Gorontalo adalah ikan yang digoreng. Pengolahan ikan dengan cara penggorengan dapat merusak omega-3 yang terkandung dalam ikan. Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa asupan omega-3 yang berasal dari ikan untuk masyarakat Gorontalo masih kurang.

Ikan adalah sumber utama omega-3 yang dapat mengembangkan fungsi saraf dan penglihatan pada bayi. Bahkan, jauh sebelum bayi lahir, saat proses tumbuh kembang otak janin mulai berjalan, ibu hamil sangat dianjurkan mengkonsumsi ikan sebagai sumber omega-3. Fase cepat tumbuh otak pada janin terjadi ketika berusia 30 minggu sampai 18 bulan. Pada fase ini, jika janin kekurangan gizi, akan terjadi kondisi irreversible (tidak dapat pulih).

WHO dan sejumlah negara maju, seperti Kanada, Swedia, Inggris, Australia, dan Jepang telah menetapkan rekomendasi tentang asupan omega-3 untuk setiap orang, yaitu 0,3 – 0,5 g/hari (EPA + DHA) dan 0,8 – 1,1 g/hari (asam linolenat). Sementara, lembaga lain menyarankan asupan linolenat 0,6 – 1,2% dari total energi atau 1,3 – 2,7 g/hari berdasarkan konsumsi energi 2.000 kkal. Negara-negara maju tersebut juga menganjurkan warganya, terutama ibu hamil, untuk mengkonsumsi ikan sebagai sumber omega-3.

Laut sebagai sumber ikan mempunyai keterkaitan erat dengan omega-3 yang sangat dibutuhkan untuk kecerdasan otak. Laut yang bebas polutan menghasilkan ikan yang segar, sebaliknya laut yang tercemar membahayakan kehidupan ikan dan berakibat buruk terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut, terutama pada perkembangan janin dan bayi. Oleh karena itu, kondisi laut sangat perlu dijaga dari pencemaran dan akibat-akibat lainnya yang merusak ekosistem di dalamnya.

Hingga saat ini, laut Gorontalo masih bebas polusi, belum tercemar oleh polutan, seperti logam-logam berat dan minyak, sehingga ikan yang dihasilkan pun masih segar. Namun, ada kemungkinan sekitar tahun 2015-2020 laut Gorontalo akan tercemar dengan logam berat akibat penambangan emas baik secara modern oleh industri dan atau secara tradisional oleh masyarakat, yang dilakukan pada daerah sumber emas, seperti di Bumela, Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo. Di samping logam berat, pencemaran air laut bisa diakibatkan oleh minyak yang dibuang ke laut oleh kapal lokal atau kapal asing. Oleh karena itu, laut yang bebas polutan ini harus dipertahankan, dipelihara, dan ditingkatkan produktivitasnya, terutama produksi ikan, baik untuk kepentingan lokal maupun kepentingan ekspor.

Hal-hal yang harus diperhatikan dan diantisipasi untuk menjaga keberlanjutan peningkatan kuantitas dan kualitas produksi ikan segar di Gorontalo hingga tahun 2020 adalah:
1. Bahaya Merkuri. Merkuri digunakan oleh industri dan penambang emas tradisional untuk menangkap dan memisahkan emas dari butir-butir batuan. Limbah penambangan emas yang mengandung merkuri biasanya dibiarkan mengalir ke sungai atau dibuang ke laut. Logam merkuri itu akan bersenyawa dengan karbon membentuk senyawa merkuri-organik, terutama metil-merkuri yang dihasilkan oleh bakteri di air laut. Bila bakteri itu kemudian dimakan oleh ikan, maka konsentrasi merkuri dalam ikan meningkat. Manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut akan terkontaminasi dengan merkuri, yang membuat konsentrasi merkuri dalam tubuh meningkat, sehingga bisa menimbulkan penyakit yang membahayakan keselamatan jiwa, seperti penyakit minamata.

Penyakit minamata awalnya diderita oleh penduduk minamata di Jepang akibat merkuri yang masuk ke dalam tubuh melalui ikan yang dikonsumsi. Penduduk tersebut menderita kehilangan keseimbangan, kematian rasa pada tangan dan kaki, kelemahan otot, kerusakan pendengaran dan cara bicara, penyempitan pandangan, dan yang ekstrim adalah sakit jiwa, kelumpuhan, koma, dan kematian. Minamata-like jilid 2 muncul kembali di Buyat, Sulawesi Utara, yang menggegerkan dunia. Sejak tahun 1996 ketika NMR mulai beroperasi sampai tahun 1997, 13 kali terjadi kematian ikan dalam jumlah yang signifikan. Tahun 1998, warga Buyat pantai mulai dihinggapi penyakit-penyakit, diantaranya adalah keguguran yang dialami beberapa perempuan ketika usia kehamilan mencapai 5-6 bulan, anak terlahir dalam keadaan cacat, ibu yang menyusui anaknya kerusakan payudara, dan kualitas kesehatan reproduksi perempuan menurun drastis secara umum. Puncaknya, 25 Juni 2005, beberapa warga meninggal dunia, dan sebanyak 68 kepala keluarga Buyat dievakuasi karena pemukiman mereka sudah tidak layak huni.

Gorontalo juga memiliki tambang emas, diantaranya di desa Bumela, yang dilaporkan bahwa sekitar 8 kepala keluarga terpapar logam berat, yang diduga berasal dari sumur warga. Sumur-sumur itu berada di daerah endapan sungai yang airnya berasal dari wilayah Bumela yang terdapat penambangan emas tradisional. Beberapa anggota keluarga telah mati dengan kondisi yang memilukan, badan kurus kering, telapak tangan dan kaki ada benjolan yang mengeras. Jika kondisi ini dibiarkan maka tahun 2013-2020 akan memperparah produktivitas keturunan, bahkan kematian warga akan terjadi dalam jumah yang banyak, sebagaimana yang terjadi di Buyat. Oleh karena itu, pemerintah harus membuat peraturan tentang pengelolaan tambang emas ramah lingkungan (mesra alam), baik oleh industri maupun penambang tradisional yang telah atau akan beroperasi di Gorontalo.

2. Nelayan Asing dan Kapal Asing. Di teluk Tomini, bagian laut selatan Gorontalo, ikan-ikan plagis besar, seperti cakalang dan tuna lebih banyak habis akibat illegal fishing oleh nelayan asal China, Taiwan, Filipina, Vietnam, dan lainnya. Laut utara Gorontalo pun berhadapan dengan laut Filipina dan negara asia lainnya, seperti Cina, Korea, dan Jepang, yang kemungkinan besar akan terjadi illegal fishing di masa yang akan datang. Selain illegal fishing, yang harus diperhatikan juga adalah kapal asing yang berlabuh, yang kemungkinan akan membuang minyak di perairan Gorontalo yang dapat menyebabkan tercemarnya air laut. Hal itu telah terjadi di pulau Galang, Kepulauan Riau, dimana nelayan mulai resah dan mengeluhkan lego jangkar 12 kapal asing di perairan pulau Galang yang menimbulkan minyak di permukaan air laut sehingga mengakibatkan laut tercemar dan hasil tangkapan ikan menurun.

3. Laut berombak besar dan berangin kencang. Pasokan ikan akan berkurang seiring dengan kondisi laut yang berombak besar dan berangin kencang. Kondisi laut tersebut akan mengurangi atau bahkan menghentikan aktivitas nelayan untuk menangkap ikan, sehingga pasokan ikan berkurang. Angin kencang dan ombak besar setiap tahun terjadi pada bulan Juli-Oktober untuk laut utara Gorontalo dan bulan Desember-Pebruari untuk laut selatan Gorontalo. Rentang waktu tersebut didukung oleh laporan Patilango bahwa nelayan di kelurahan Leato, kelurahan Pohe, dan kelurahan Tanjung Kramat, Gorontalo, tidak melaut sejak dua bulan terakhir karena angin kencang dan gelombang tinggi mencapai 3 meter, dan diperkirakan berlansung selama 4 bulan, hingga akhir Oktober. Pasokan ikan agar tidak berkurang pada kondisi tersebut, dapat dijaga dengan cara mobilisasi nelayan dari laut selatan ke laut utara Gorontalo atau sebaliknya, berdasarkan kondisi laut masing-masing. Cara lain adalah penangkapan ikan harus ditingkatkan sebulan sebelum musim ini berlangsung. Ikan-ikan hasil tangkapan pada bulan itu dapat diawetkan dengan penggaraman, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang lama. Hal ini pula bertujuan untuk mengantisipasi melonjaknya harga ikan basah.

4. Penangkapan ikan yang merusak dan lintas wilayah perairan. Praktek penangkapan ikan dengan cara merusak, antara lain penggunaan pukat harimau (trawl), bom (dynamite fishing), dan racun potas (cyanide fishing). Penggunaan dynamite dan cyanide fishing selain dapat menghabiskan populasi ikan, juga mengakibatkan kerusakan ekosistem di sekitarnya (terumbu karang) dan membahayakan keselamatan nelayan. Sedangkan, penangkapan ikan lintas wilayah perairan untuk di Sulawesi, Maluku, dan Irian belum menjadi masalah yang serius karena masih banyak lokasi perairan sebagai sumber ikan pada masing-masing wilayah tersebut. Namun, perlu diperhatikan dan diwaspadai pada tahun berikutnya, sekitar 2015, tentang pencemaran laut akibat limbah yang dibuang ke laut oleh perusahaan yang beroperasi di Maluku dan Sulawesi Tengah. Akibatnya, nelayan-nelayan di daerah tersebut atau bahkan nelayan dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan kemungkinan akan melakukan penangkapan ikan di laut Gorontalo, yang sebenarnya sebagai lokasi penangkapan ikan bagi nelayan setempat. Oleh karena itu, penangkapan ikan dengan cara merusak dan lintas wilayah harus diantisipasi sedini mungkin, karena hal itu akan semakin kompleks, yang tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.

5. Ikan yang berformalin. Ikan basah yang mengandung formalin dapat diketahui dengan ciri-ciri: berwarna putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampai beberapa hari, dan tidak mudah busuk. Penggunaan formalin sebagai pengawet ikan merupakan perbuatan yang salah karena fomalin membahayakan kesehatan manusia. Jika manusia mengkonsumsi ikan yang mengandung formalin, maka formalin itu akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga fungsi sel akan tertekan dan mati, akibtanya akan terjadi keracunan pada tubuh. Formalin juga dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mengganggu fungsi hati, ginjal, dan sistem reproduksi. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan kejang-kejang, kencing darah, dan muntah darah, yang berakhir dengan kematian. Di Gorontalo pernah ditemukan ikan kering dari sulawesi tengah yang mengandung formalin, yang meresahkan masyarakat. Makanan, selain ikan, yang juga ditemukan mengandung formalin adalah tahu. Makanan yang mengandung formalin ini harus dihentikan produksinya dan dijaga ketat agar tidak beredar di pasar, sehingga kesehatan masyarakat akan terjaga, terutama kesahatan sistem reproduksi untuk dapat melahirkan anak yang cerdas.

Pengendalian kelestarian laut dan ekosistem yang ada di dalamnya akan menjaga ikan tetap segar (tidak tercemar) dan menambah produktivitasnya. Hal ini sebagai salah satu usaha yang akan memberikan manfaat terhadap terpenuhinya kebutuhan ikan sebagai sumber omega-3 bagi penduduk Gorontalo yang semakin bertambah. Penduduk Gorontalo mengalami kenaikan kurang lebih 1,1 persen per tahun, dan diperkirakan jumlah penduduk Gorontalo pada tahun 2020 adalah 1.161.604 jiwa. Kebutuhan ikan berdasarkan jumlah penduduk tersebut adalah sekitar 67 ton per hari.

Rata-rata jumlah kelahiran bayi per tahun diperkirakan adalah kurang lebih 12.038 jiwa, dengan 23 bayi meninggal dari setiap 1.000 bayi, dan dapat diperkirakan bayi yang hidup pada setiap tahun berjalan, khususnya tahun 2011 adalah 11.762 bayi. Jika kondisi janin yang masih dalam kandungan dan bayi, hingga berumur lima tahun diberikan omega-3, melalui konsumsi ikan secara teratur, maka diperkirakan akan lahir bayi yang cerdas di Gorontalo sebagai Habibie-Habibie Baru (H2B) masa depan. Penelitian telah banyak melaporkan bahwa wanita yang makan ikan laut selama proses kehamilah, maka melahirkan anak yang berotak cerdas. Hibbeln mengemukakan juga bahwa makanan laut adalah sumber makanan dominan yang kaya asam lemak omega-3 yang bercincin panjang, yang secara esensial dapat mengembangkan sistem saraf.

Konsumsi ikan segar yang teratur, dengan memperhatikan dan menjaga omega-3-nya, maka diperkirakan H2B akan tercipta di Gorontalo pada tahun 2030-2031, dengan asumsi bahwa program makan ikan segar yang teratur segera dimulai sejak awal tahun 2010.

Fase-fase terciptanya H2B ini dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Fase I, tahun 2010-2011, janin mendapatkan suplai omega-3 pada ikan melalui ibu hamil. Penelitian terbaru yang dilakukan terhadap tingkah laku dan kecerdasan anak-anak di USA menunjukkan bahwa wanita hamil yang mengikuti saran pemerintah untuk membatasi makan ikan atau wanita hamil yang tidak menjadikan makan laut sebagai makanan hariannya, kehilangan nutrisi yang sangat vital. Penelitian yang sama juga dilakukan terhadap 9.000 keluarga Inggris sebagai bagian dari kegiatan Children of the 90s Project di Universitas Brisbol [15]. Menurut wanita Yahudi, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak, namun kepala ikan mengandungi zat kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak di dalam kandungan [16]. Ini adalah adat orang Yahudi ketika hamil, sebagai kewajiban seorang ibu mengkonsumsi ikan untuk melahirkan anak yang cerdas.

2. Fase II, tahun 2011-2012 lahir anak yang cerdas dan mendapatkan omega-3 ikan berikutnya melalui ibu yang menyusui, kemudian dilanjutkan dengan suplai omega-3 ikan yang dimakan secara langsung oleh anak tersebut sampai umur 5 tahun, hingga tahun 2015. Otak anak-anak masih tumbuh sampai usia sekitar lima tahun. Oleh karena itu, usia balita disebut golden age yang harus terhindar dari kondisi kekurangan gizi. Menurut Stephen, karena kebiasaan makan ikan, maka anak-anak Yahudi sungguh cerdas, dan bisa dikatakan mempunyai tingkat IQ 6 tahun lebih maju daripada IQ anak-anak di California.

3. Fase III, tahun 2015-2021, pertengahan tahun 2015 masuk sekolah dasar hingga lulus tahun 2021. Richard Whitfield, kepala sekolah Toft Hill Primary School, Bishop Auckland, County Durham mengemukakan bahwa anak-anak yang mengkonsumsi minyak ikan setiap hari dapat meningkatkan prestasi ujian, bahkan terjadi peningkatan drastis terhadap konsentrasi dan tingkahlaku murid-murid. Nilai ujian murid-muridnya pada mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris yang diharapkan masing-masing adalah 68% dan 78%, namun yang dihasilkan adalah 92%, sungguh terjadi peningkatan kualitas yang signifikan.

4. Fase IV, yaitu masa SMP (tahun 2021-2031), masa SLTA (tahun 2024-2027), dan masa perguruan tinggi (mulai pertengahan tahun 2027). Kecerdasan otak dalam fase ini juga harus dipertahankan. Fase ini berada pada usia dewasa, dimana omega-3 punya peran khusus. Otak, susunan saraf pusat, saraf tulang punggung, sebagian besar terdiri atas asam lemak esensial omega-3 dan omega-6 yang banyak terdapat pada ikan. Kerusakan susunan saraf banyak disebabkan oleh kurangnya asam lemak esensial ini, yang dapat menyebabkan hilangnya daya ingat di usia menengah dan turunnya fungsi otak secara drastis. Oleh karena itu, pada fase ini suplai ikan harus dipertahankan, sehingga tahun ketiga di perguruan tinggi, persisnya tahun 3030, akan mulai muncul benih-benih H2B yang cerdas dan berpikir maju. Akhirnya, setelah tamat dari perguruan tinggi, sekitar tahun 2031-2032, akan ada Habibie-Habie Baru, H2B, yang brilian dan siap untuk memperkuat dan mengokohkan sains dan teknologi, serta dapat memimpin masa depan Gorontalo, bangsa, bahkan dunia internasional, seperti layaknya B.J. Habibie.

Diperkirakan jumlah H2B pada tahun 2032 yang telah tamat dari perguruan tinggi adalah kurang lebih 11.762 orang. Jumlah tersebut akan terus bertambah setiap tahun, seiring dengan berjalannya waktu. Tahun 2020, calon-calon H2B itu diperkirakan baru duduk di sekolah dasar pada kelas 4 jika usia 6 tahun masuk sekolah dasar, dan diperkirakan jumlah H2B yang berada di SD dari kelas 1 sampai kelas 4 adalah kurang lebih 47.000 orang. Calon-calon H2B harus terus diperhatikan kebutuhan omega-3, hingga akhirnya tercipta H2B sesungguhnya sekitar tahun 2032.
Oleh karena itu, kelestarian laut harus dijaga dan ditingkatkan produktivitasnya sebagai sumber ikan sehat yang menghasilkan omega-3, dan juga konsumsi ikan segar harus dipenuhi secara rutin berdasarkan kebutuhan kalori, sekitar 57 gram perkapita per hari. Tentunya juga, harus memperhatikan cara masak ikan agar omega-3-nya tetap terjaga (tidak terbuang akibat pemanasan yang terlalu lama dan cara menggoreng yang berlebihan). Laut, ikan, omega-3, dan kesehatan adalah milik kita dan kebutuhan kita semua, dari janin sampai kakek-nenek, baik yang berada di daerah terpencil maupun di perkotaan, maka dengarkanlah pesan “nenek moyang seorang pelaut” berikut!

“Ponula meyalo u’alo uwewo mondho deheto paralu daa olandho. uponula o zat u’tanggulio omega-3 u’ paralu mo’o piyohu batanga wawu mopolahu odungga lio lo panyaki lo hati, strok, kangker wawu panyaki uwewo. lebe liyo mao omega-3 paralu daa de ta omboda’a, ta he polutuwa wawu takee’ino. wanu mo’olohu monga uponula selama omboda’a, wala’o mali motota”

“Mo piyohu ode olando, mo piyohu olo ode deheto”

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on February 6, 2010, in Artikel Motivasi. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: