JANGAN MALU MENJADI ANAK “PEJUANG”

Berikut adalah sebuah kisah dari negeri jiran, Malaysia. Kisah seorang anak pejuang (da’i), Humayrah Mawaddah, yang senantiasa bersabar dengan profesi orang tuanya yang menghabiskan waktunya untuk mendakwahkan risalah Islam ini. Hingga akhirnya ia beserta saudara-saudaranya merasa bahagia dan bangga sebagai seorang pejuang dakwah dan anak para pejuang.

Berikut adalah kisah selengkapnya, selamat membaca!

Aku dilahirkan dalam keluarga yang senantiasa mengamalkan ajaran agama. Ayahku seorang doktor dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Mereka merupakan aktivis masyarakat dan penggerak sebuah organisasi Islam yang telah lama bertapak di bumi Malaysia ini. Sejak kecil saya dan saudara-saudaraku dididik untuk hidup mandiri dan senatiasa dibawa untuk bersama-sama mengikuti program-program jamaah. Bagi kami istilah seperti usrah, tamrin, tarbiyyah sudah tidak asing lagi. Jika kami tidak ikut serta dalam suatu kegiatan, kami sering ditinggalkan di rumah bersama kakak yang sulung yang umurnya pun ketika itu baru 12 tahun.

Kadang-kadang keadaan tersebut menyebabkan aku sering terasa diabaikan kerana kesibukan ayah dan ibu. Ketika aku beranjak remaja, aku lulus di sebuah sekolah berasrama. Pada hari pendaftaran aku tidak ditemani oleh ibu Ayahku sebagaimana sahabat-sahabat lain. Ayah, ibu dan adik-adik berada di luar daerah mengikuti ayahku. Aku coba untuk hidup mandiri. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, namun wajah ibu Ayahku masih tidak muncul untuk datang mengunjungiku.

Setiap kali hari kunjungan keluarga, aku akan menunggu di tepi kantin dengan harapan ibu Ayahku akan datang walaupun aku tahu itu tidak mungkin terjadi karena mereka berada nun jauh di seberang lautan. Memang benar pepatah mengatakan ‘penantian adalah suatu penyiksaan’. Sekian lama mengharap,pada suatu petang aku mendengar namaku dipanggil dicorong pembesar suara. Pada waktu itu hanya Allah yang tahu betapa gembiranya hatiku. Dari jauh aku melihat wajah ibu Ayahku, tanpa disadari air mata kesyukuran jatuh bercucuran. Penantian setahun kini berakhir. Pada tahun berikutnya aku menghadapi ujian nasional. Seperti sahabat-sahabat lain aku mengharapkan keluargaku datang untuk memberi semangat kepadaku dalam belajar. Namun setiap kali aku menelpon ibu Ayahku pasti mereka akan jawab,”ibu ada kegiatan akhir pekan ini”,”pekan ini ibu ada usrah“,”ayah akan meresmikan majelis minggu ini” dan jawaban-jawaban sepertinya yang lain.

Jarang sekali mereka berkelapangan untuk datang menjengukku di sekolah. Sahabat-sahabat ku selalu bertanya kepada aku,” anti ini orang Selangor tapi jarang ana lihat keluarga anti datang”. Aku hanya terdiam, diam seribu bahasa. Aku tahu jika aku terangkan kepada mereka, mereka tidak akan paham. Kadang-kadang terbetik dihatiku, apakah adil semua ini untuk aku. Namun cepat-cepat aku padamkan perasaan itu.

Ibu selalu berkata, “kerja-kerja jamaah inilah yang memberi keberkatan dalam hidup kita”. Kenyataan itu tidak dapat aku nafikan. Aku dan saudaraku yang lain lebih mudah memahami suatu pelajaran dibanding orang lain. Banyak kejadian dalam hidup keluarga kami membuktikan pertolongan Allah sangat jelas datang membantu. Contohnya ketika hasil ujian diumumkan. Aku berhasil mendapat prestasi yang gemilang. Aku yakin bahwa prestasi ini merupakan berkah daripada kerja-kerja jamaah yang dilaksanakan oleh ibu Ayahku.

Kini aku pula terlibat dengan kerja-kerja jama’ah. Aku mulai memahami betapa pentingya perjuangan ini , perjuangan yang tidak menjanjikan ganjaran uang seberapa pun banyaknya bahkan kadang mengundang kebencian manusia. Namun hanya keridhaan Allah yang didambakan agar agama Allah dapat ditegakkan di atas muka bumi ini. Kerja yang memerlukan banyak pengorbanan ini tidak semua orang sanggup memikulnya. Ada yang gugur di tengah jalan karena tidak mampu menghadapi kerikil-kerikil tajam dalam berdakwah.

Aku mulai menyadari dan memahami kesibukkan ibu Ayahku selama ini. Kepada semua anak-anak pejuang, janganlah kalian sedih dan rasa terabaikan karena janji Allah itu pasti seperti di dalam surah Muhammad ayat ke-7 :

” Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. ”

Kepada para pejuang, jangan ragu-ragu dan merasa bersalah karena terpaksa meninggalkan anak-anak karena sibuk dengan perjuangan, kami anak-anakmu memahami dan kami bersedia menjadi penerus perjuangan ini. Yakinlah bahwa Allah tidak akan sia-siakan segala pengorbananmu…..Allahu Akbar!

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini.

Diadaptasi dari www.iluvislam.com


About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on December 28, 2009, in Renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: