SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN PADA MASA SEKARANG

Akhir-akhir ini kita banyak melihat diberbagai media masa bagaimana nasib kaum muslimin di penjuru dunia, terutama di Palestina. Kaum muslimin ditindas oleh kaum kuffar, seakan-akan kaum muslimin tidak punya ‘izzah (kemuliaan) lagi. Kondisi umat Islam saat ini jika kita bandingkan dengan Islam dimasa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam ibarat langit dan sumur bor, sangat jauh perbedaanya. Apa gerangan  yang menyebabkan kemunduran kaum muslimin dewasa ini.   Berikut adalah nasihat dari  Dr. Nashir bin Sulaiman Al ‘Umr tentang sebab-sebab kelemahan kaum muslimin masa sekarang.

Pertama: Hilangnya pengaruh masjid. Di kebanyakan negeri Muslim pada saat ini, masjid tak lebih dari tempat pelaksanaan shalat lima waktu. Bahkan saya pernah melihat disebagian masjid ada muadzin yg mengumandangkan adzan sebelum pintu masjid di buka. Bila ada seseorang yg ingin melakukan shalat-shalat sunnah sesudah shalat fardhu, sang muadzin berkata kepadanya: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Sebaiknya Anda shalat di rumah saja. Demikianlah, masjid sekedar menjadi tempat pelaksanaan rakaat-rakaat shalat. lalu umat sampai pada kondisi memprihatinkan yang patut dikasihi. Padahal masjid pada masa hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam merupakan tempat bertolak bagi kepemimpinan, penelitian, peren-canaan, ilmu dan pendidikan.

Kedua: Minimnya ulama yang mau beramal, yang bernadzar hendak mendermakan dan menyebarluaskan ilmunya. Pada saat sekarang Anda jumpai di setiap negeri Muslim, ribuan orang yang gelar-gelar akademik pasca sarjana (Master dan Doktor) dibidang spesialisasi ilmu-ilmu syar’i. Tetapi, ketika Anda mencari para ulama yang aktivìs sekaligus mubaligh, yang berjihad dengan ilmunya di jalan Allah untuk menghilangkan kebodohan dari diri umat, maka Anda mendapati bahwa sedikit sekali dari mereka yang dapat dihitung dengan jari. Bahkan di sebagian negeri Muslim saya tidak mendapati apa yang dapat saya hitung dengan jari dari pada para ulama itu. Saya telah bertanya tentang para ulama di sana. Ada yang mengatakan kepada saya: Disini ada ulama Fulan dan lainnya. Lalu saya pergi menemui para ulama itu (sebetulnya saya menyesal menemui mereka). Saya dapati ternyata diri mereka lalai, tidak ber-iltizam, dangkal dan le­mah. Benar, salah seorang di antara mereka hafal beberapa nash semata, kita tak butuh para ulama yang hanya menaruh perhatian terhadap jabatan dan melalaikan ilmu yang telah mereka pelajari. Sesungguhnya kita hanya membutuhkan para ulama yang aktif, cakap dan mujahid.

Ketiga: Buruknya perencanaan pendidikan di berbagai tingkat pelajaran yang berbeda di negeri-negeri Islam. Perencanaan pendidikan di mayoritas negeri Islam memiliki tujuan yang buruk, baik berupa perencanaan yang bersifat sekuleris­tik maupun kekiri-kirian, yang diimpor dari Timur atau Barat. Di dalam perencanaan tersebut sedikit sekali didapati seberkas cahaya (kebaikan).

Keempat: Lemah cita-cita dan tekad untuk mencari ilmu. Anda dapati seorang syaikh (guru) memulai pelajaran-­pelajarannya bersama sejumlah besar siswa. Kemudian jumlah yang besar itu berkurang sedikit demi sedikit, hingga yang tetap belajar bersama sang syaikh hanyalah sedikit sekali, dan bisa dihìtung dengan jari. Penyebab fenomena ini, karena semangat yang mengendalikan kehidupan dan tingkah laku kita telah menghilang dari dalam diri kita. Sehingga sedikit sekali di antara kita yang memiliki sifat teguh hati, berpandangan jauh, berwawasan luas dan tahan terhadap berbagai kesulitan.

Kelima: Terbukanya pintu-pintu dunia, sehingga orang­-orang hanya menyibukkan diri dengan kelezatan dan harta duniawi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir terbukanya pintu dunia kepada kalian, sebagaimana yang telah terjadi pada orang-orang sebelum kamu. Kamu akan belomba-lomba menggapainya sebagaimana mereka berbuat demikian. Dan, dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinaskan”. (HR. Bukhary dan Muslim)

Keenam: Kebanyakan orang akhirnya merasa lebih sedih bila ditimpa bencana yang berkaitan dengan keduniaannya ketimbang akhiratnya. Banyaknya sarana-sarana hiburan dan lain-lainnya yang bisa memalingkan seseorang dari mengejar perkara-perkara yang luhur lagi mulia serta tujuan tujuan yang baik. Dalam sebuah pepatah dikatakan: “Kesenggangan dan ketergesaan amat merusak diri seorang pemuda”.

Ketujuh: Spesialisasi-spesialisasi parsial yang mem­perlemah ilmu-ilmu syar’i. Seorang ulama pada masa lampau adalah ulama yang menguasai ilmu-ilmu syariah, sejak dari tafsiir, hadits, aqidah, Ushul Fiqih, dan seterusnya. Adapun sekarang ini, dibidang fiqih, misalnya, terbagi menjadi dua bagian: Ada orang-orang yang khusus mendalami fiqih dan yang lainnya mendalami Ushul-Fiqih. Atas dasar cara ini ilmu-ilmu syariah dipisah-pisahkan satu sama lainnya. Sehingga universitas-universitas meluluskan orang-orang terpelajar yang setengah.setengah bagi umat. Bila Anda menanyai salah seorang di antara mereka tentang sesuatu persoalan, tentu ia akan meminta maaf, tak mampu menjawabnya, karena hal itu bukan spesialisasínya. Celakanya, hal itu telah menjadi suatu yang diterima secara umum (aksiomatik).  Coba kita perhatikan selintas kisah sebagian ulama umat dahulu, seperti Ath-Thabari misalnya. Jika Anda melihat segi penguasaannya di bidang tafsiir ia benar-benar berada di puncak ilmu itu. Begitu juga dí bidang hadits atau dibidang bahasa, maka ia adalah orang yang kuat dalam pengungkapannya dan bagus susunan kalimatnya. Seperti juga Ibnu Taimiyah, yang buku-bukunya diklasifikasikan ke dalam bagian-bagian yang berbeda menurut fak-fak ilmu-ilmu syari. Sebagian masuk dalam bagian tafsir, hadits, aqidah, fiqih, peradilan, dakwah, sejarah dan pengetahuan ilmu syariah. Maka renungkanlah dan bangdingkanlah antara ilmu mereka itu dan ilmu orang-orang sekarang.

Kedelapan: Kekalahan jiwa di hadapan sebagian ilmu material dan memandang spesialisasi-spesialisasi syariah dengan pandangan yang bersifat duniawi. Misalnya, beberapa orang pemuda berkumpul di sebuah majelis. Lalu satu sama lainnya saling bertanya: “Dimana engkau belajar ?” Salah satunya menjawab dengan penuh kebanggaan: “Saya kuliah di Fakultas Kedokteran”. Yang lain menimpali: “Saya kuliah di Fakultas Teknik”. Kemudian yang ketiga menundukkan kepalanya sambil berkata: “Kemampuanku lemah sehingga saya masuk Fakul­tas Syariah”.  Ini merupakan suatu tragedi yang harus kita akui dalam kehidupan kita yang menyakitkan di kebanyakan negeri-negeri Islam. Saya pernah berbincang-bincang bersama beberapa orang spesialis ilmu-ilmu syariah. Mereka berkata, Di antara tragedi yang kami lihat adalah adanya beberapa ulama Al-Azhar yang merasa bangga jika anak-anaknya belajar di Fakultas Kedokteran dan Teknik. Ini merupakan sumber kerapuhan jiwa mereka dan kemunduran hati mereka serta prasangka buruk di dalam pandangan mereka terhadap spesialisasi mereka sendiri. Jika Anda menanyai salah seorang di antara mereka tentang pendidikan anak-anaknya, tentu ia akan menjawab, Salah seorang kuliah di kedokteran, anak yang kedua di bi dang science, yang ketiga di kedokteran juga dan yg keempat di fakultas hukum. Di antara keanehan revolusi pemahaman seseorang adalah bila Anda menanyai beberapa orang terpelajar tentang dari mana mereka lulus? Lalu salah seorang menjawab dengan penuh kecongkakan, Saya lulusan Amerika. Jika kepada yang lain Anda ajukan pertanyaan yang sama, maka jawabannya Ayahku tak mengizinkan aku belajar di luar negeri. Maka aku terpaksa belajar di dalam negeri. Jawaban ini ia katakan dengan penuh kepahitan. Kesemuanya ini merupakan pangkal dari kekalahan psikologis yang menyebabkan munculnya persepsi yang buruk dan pendangan berubah-ubah. Akhirnya kondisi kita menjadi lemah dan terbelakang, yang patut dikasihi. Satu-satunya kemuliaan adalah mempelajari ilmu-ilmu syariah dan concern tehadap Al-Quran dan sunnah nabiNya Shalallahu ‘alaihi wasalam . Tetapi, tikaman-tikaman berskala luas yang diarahkan oleh media-media westernisasi ke tubuh umat senantiasa memundurkan sendi-sendi kemuliaan-nya dan sebab-sebab kepemimpinannya. Saya tegaskan bahwa tikaman-tikaman ini mau tidak mau menyebkan kekalahan psikologis yg amat dibenci.

“Al Ilmu Dhorurotun Syar’iyyah” Dr. Nashir bin Sulaiman Al ‘Umr

About Abu Maryam

menjelajahi lautan 'ilmu sebagai bekal di akhirat kelak

Posted on January 23, 2009, in Artikel Islamy. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

(new) Iqmal Tahir's Blog

Ternyata tidak cuma kimia saja yang ingin kutulis...

Abu Maryam Notes

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S 58:11)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: